Ilustrasi

Awas, Permainan Blue Whale Challenge Pengaruhi Cara Berpikir Anak

03 Mei 2017

TAMASYA.ID - Saat ini beredar permainan di internet bernama Blue Whale Challenge yang pesertanya ditantang untuk menyakiti diri sendiri selama 50 hari.

Di hari terakhir, para peserta yang ikut dengan permainan yang dikenal Blue Whale Suicide Game itu  ditantang melakukan aksi yang serupa dengan tindakan bunuh diri untuk menjadi pemenang.

Terkait hal itu, Psikolog Kasandra Putranto menilai, permainan melalui internet dan sosial media dapat mempengaruhi cara berpikir dan kualitas seorang anak dalam bertindak.

"Ketika kegiatan tidak mendidik seperti membuka sosmed atau game, biasanya anak-anak, secara otak menjadi lebih lemah. Perilaku mereka pun terganggu sehingga mereka lebih mudah terjebak dalam permainan blue whale," ucapnya, Rabu (3/5).

Dikutip dari sejumlah sumber, permainan ini memiliki ribuan anggota di media sosial seperti, Facebook dan YouTube. Nama permainan itu sudah populer di Rusia, Ukraina, Spanyol, Portugal, Perancis dan Inggris.

Peserta yang mengikuti permainan Blue Whale itu diminta untuk menggambarkan ikan paus di tangan atau kaki dengan silet atau pisau. Selain itu, mereka juga diminta untuk menerima tantangan lain yang bersifat menyakiti diri sendiri oleh kurator game.

Pada hari terakhir yang menjadi penentuan, di mana tantangan berakhir dengan aksi bunuh diri. Peserta permainan itu diminta untuk mengunggah foto selfie sebelum melakukan aksinya dan menuliskan pesan "Good Bye" atau "End".

Kasandra mengatakan, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam permainan tersebut. Pertama, pengaruh buruk terhadap anak jika game tersebut benar meminta untuk menyiksa diri sendiri. Kedua, apakah ada kepentingan dari bagian iklan yang sengaja mempromosikan game tersebut dengan reputasi buruk supaya semakin banyak dicari.

Meski demikian, tagar #BlueWhaleChallenge #i_am telah merebak di Twitter. Namun, Instagram sendiri telah memberi peringatan penggunaan tagar tersebut karena dinilai mengacu pada aksi menyakiti diri sendiri.

Untuk memperhatikan hal itu, Kasandra mengatakan, ada sejumlah perilaku kognitif pada anak remaja yang harus diperhatikan. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh otak mulai dari bangun tidur, bergerak, belajar, mood sampai pada keahlian masing-masing.

Dalam buku karangannya, Kasandra mengatakan, proses otak terbentuk menjadi hal penting untuk diperhatikan orang tua mulai anak lahir hingga bertumbuh kembang. 

Seorang ibu harus memperhatikan pada sikap anak yang berorientasi pada prestasi. Otak anak harus besar, harus memiliki kasih sayang dan cinta. Anak harus aktif bergerak. Mengonsumsi makanan sehat dan menjauhi fast food yang mengakibatkan kurangnya konsentrasi. Mengerjakan kegiatan yang menyenangkan untuk menjauhi sosial media dan gangguan tidur pada anak.

"Semua pihak, dari pemerintah, orang tua, dan perusahaan game harus memperhatikan kebutuhan anak. Permainan yang mendidik harus dibuat dan jika ada permainan seperti ini harus diteliti terlebih dahulu," ucapnya.

Kasandra mencontohkan, tahun 2014 Indonesia telah memiliki game berbahaya sebelum blue whale. Game tersebut bernama Grand Theft Auto yang memerintahkan peserta untuk melakukan tindak kekerasan, memperkosa, merampok bank dan menabrakkan diri. Dari sana diketahui bahwa hal itu berdampak buruk bagi pesertanya.


(Hilal)

*Berbagai sumber