Sisa Kejayaan Majapahit yang Terlupakan, Erotisme Candi Sukuh

14 Juli 2016

Tamasya.id - Jika kita berbicara perihal wisata candi, Jawa Tengah adalah pusatnya. Kondisi tersebut seiring dengan kejayaan kerjaan Majapahit di era Nusantara dahulu. Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Mendut, dan masih banyak lagi, adalah sederet destinasi wisata peninggalan Majapahit. Namun begitu, ternyata ada satu candi peninggalan Majapahit yang kerap terlupakan. Padahal, keberadaan candi ini terhitung cukup penting, khususnya secara historis karena diyakini sebagai penanda akhir kekuasaan Majapahit di Nusantara. Candi tersebut adalah Candi Sukuh. Candi Sukuh berlokasi di lereng barat Gunung Lawu ketinggian 1.186 mdpl, Desa Sukuh, Kabupaten Karanganyar. Jaraknya sekira 20 km dari kota Karanganyar dan 36 km dari Surakarta. Candi Sukuh dijuluki sebagai 'The Last Temple' alias 'candi terakhir', karena candi ini diyakini sebagai candi terakhir yang dibangun sebelum kerajaan Hindu Majapahit di Nusantara memudar perannya. Candi yang diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-15 M ini ditemukan oleh Residen Johnson yang merupakan bawahan Sir Thomas Stamford Bingley Raffles dari Belanda (VOC) yang kala itu mulai datang ke Nusantara. Kala itu ia ditugasi oleh Raffles yang merupakan gubernur jenderal VOC untuk menghimpun data untuk penyusunan buku History of Java pada tahun 1815. Menurut laman resmi Pesona Indonesia, Candi Sukuh merupakan salah satu candi paling menarik di Asia Tenggara. Uniknya, karena di candi ini terdapat beberapa ornamen erotis simbol kehidupan seks manusia. Beberapa patung dan arca menggambarkan 'lingga' sebagai perwujudan kemaluan pria dan 'yoni' sebagai perwujudan kemaluan wanita. Bangunannya pun berbeda dari kebanyakan candi di Indonesia. Candi ini justru mirip piramid Suku Maya di Mexico atau Inca di Peru. Jika candi-candi lain di Jawa Tengah dibangun dengan bentuk yang menyimbolkan Gunung Meru, maka Candi Sukuh memiliki tampilan sederhana berbentuk trapesium. Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan berupa batuan jenis andesit. Mitos yang beredar menyebutkan, candi ini merupakan bagian dari legenda pencarian 'tirta amerta' (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, yaitu kitab pertama Mahabharata. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri dan dipergunakan untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta yang bisa memberikan kehidupan abadi bagi siapapun yang meminumnya. Sementara itu, teori lain menyatakan bahwa Candi Sukuh dibangun untuk tujuan pengruwatan, yaitu menangkal atau melepaskan kekuatan buruk yang mempengaruhi kehidupan seseorang. Hal ini berdasarkan ciri-ciri tertentu yang dimilikinya, yakni relief-relief yang memuat cerita-cerita pengruwatan, serta pada arca kura-kura dan garuda yang terdapat di candinya. Arkeolog Belanda W.F. Stutterheim pada tahun 1930 menjelaskan kemungkinan pemahat Candi Sukuh adalah bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Candi dibuat seakan tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Hal ini terlihat dari relief yang masih kasar dan sederhana. Ada dugaan ini disebabkan karena keadaan politik kala itu menjelang keruntuhannya Majapahit yang terdesak pengaruh Islam dari Demak. Oleh karena itu, tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah. Akan tetapi, meski demikian candi ini menyimpan keunikan yang berharga sebagai salah satu warisan budaya Indonesia. Tamasya / OTM / HIW